Dear
Adelia
Apa
kabarmu? Ku harap kau tetap baik disana, oh ya kamu sedang apa sekarang? Ganggu
yah? Semoga saja ini tak mengganggumu, mengusik ketenanganmu--- ah, berat
sekali aku mengatakannya. Namun tetap haru kukatakan, ku tau kau menunggu
jawaban ini dari dulu semenjak kau melihatku pertama kali, tetapi baru kali ini
ingin sekali menjawabnya. Tentangnya “hati ku ini”.
Aku mengerti perasaanmu kepadaku,
dan itu saya hargai dengan selama ini semua sapamu telah aku balas dengan
ikhlas, tentunya aku tak ingin memberimu harapan palsu, sebuah harapan kosong,
aku inginkan kau mengerti. Maafkan aku ingin mengatakan ini sebelumnya, dan
maaf pula jika harapan mu itu menjadi sia-sia hanya karena aku.
Selama ini aku lebih memilih diam
ketimbang untuk memilihmu, bukan, bukannya kau tak cantik, tentunya kau cantik,
kau sempurna dan aku takut ketidak-sempurnaanku mengurangi khikmat mu menjalani
hidup, kau ingin mengerti mengapa aku lebih memilih diam? Aku belum ingin
merasakan yang namanya pacaran, aku belum siap, bagiku pacaran itu hal yang sakral,
itu adalah proses menuju penyatuan, dimana kita harus merangkai mimpi terlebih
dulu sebelum menghadapi prosesnya, aku aku tak pandai merangkainya, aku takut
kau akan kecewa. Itulah alasan ku untuk lebih memilih diam.
Dan silahkan! Terbanglah engkau
bersama yang lain dalam merangkai mimpimu, aku tetap dalam pendirianku yang selama
ini aku teguhkan, yaitu aku lebih memilih diam, maka maafkan aku. Semoga surat
ini dapat menjawab semua yang engkau nantikan. Terima kasih.
*Adelia
maafkan aku, aku lebih memilih diam

0 komentar:
Posting Komentar