Recent Posts

.

Kisah Cinta Matahari dan Bulan (Melapangkan Senja)

Kamis, 15 Agustus 2013

Kali ini aku benar-benar terduduk saat menantikan perjumpaan kita di batas senja, aku menunggu senyum manismu, menunggu indah kelopak matamu kala berkedip. Dan jujur itu mengganggu pagi—siangku hingga senja tiba. Namun senja begitu cepat melintas, menamatkan kisah kita setiap harinya.
Aku berpikir keras untuk merubah bentuk fisiku. Menjadi bintang kejora yang setia menemani  kala malam menghampiri mu bulan, menjadi semua yang kau inginkan, demi bersatu. Namun aku telah menjadi matahari bercahaya di pagi hari menghangatkan siang-siang manusia. Aku sulit menerima itu. Aku benci.
Aku merindukanmu ketika malam tiba, bayang mu hadir di setiap malam insomniaku. Aku berjalan di keheningan malam berharap aku dapat melupakanmu supaya aku tetap pada diriku yaitu menjadi matahari. Namun apa ? kelembutan mu selalu di sisi ku. Menemani di setiap gundahku. Aku harap kau kan baik-baik saja.
                Kali ini aku membiarkanmu bercengkrama bersama bintangmu yang lain, yang selalu bersamamu, menjagamu, memelukmu hangat saat angin malam meniupkan kegundahan kepadaku. Aku takkan marah dalam hal itu. Karena saat kau terjaga dan tersenyum. Itulah kebahagiaan sesungguhnya untukku. Hingga kini itu masih aku lakukan.

                Namun suatu saat. Aku sendiri yang akan melakukan itu. Menjagamu, memelukmu. Melengkungkan senyum diwajah cantikmu. Aku akan setia kepadamu. Membagi cahayaku untukmu ketika kau redup. Dan aku harap kau dapat membagi kelembutan malam ketika aku mulai tak terkendali.
hal itu akan segera terjadi. Karena Tuhan akan ‘Melapangkan Senja’ untuk kita berdua.


Senja begitu cepat berlalu
Namu tuhan tahu
caranya  memberikan sebuah harapan baru
Melapangkan senja untuk kau dan aku
Bersatu.             

0 komentar:

Posting Komentar