Recent Posts

.

Aku, kamu dan ingatan

Minggu, 20 Oktober 2013



Waktu itu sabtu, aku duduk di depan aula yang biasa orang awam sebut gedung pertemuan, aku memilih tempat itu untuk menunggumu bukan tanpa alasan, selain harapan semoga gedung pertemuan itu berfungsi seperti namanya yaitu mempertemukan aku dengan mu, ya memang itu adalah satu-satunya tempat dimana aku biasa melihatmu pulang sekolah.
Aku pemalu, aku duduk disitu sendiri melihat sepasang capung sedang terbang berduaan dengan sang kekasih. Aku iri. Jelas nampak dari wajahku. Tak lama kemudian kau datang, aku kaget setengah gugup. Aku memandangmu dengan mimik ingin menyapa, aku pasang senyum 3 jari untuk menyambutmu sang putri yang selalu hadir di setiap mimpi indahku, menjadi obat disetiap resah.
Sore itu aku bahagia, berharap peristiwa  tadi bisa menjadi kenangan untuk melenyapkan kisah malam mingguku yang selalu kelabu. Aku ingat rabu kemarin sehabis olahraga, saat itu kau sedang duduk bertiga di pojokan kantin. Rena, adhila, dan kamu (adinda) dengan pita merahmu yang tercatut dihijab sebelah kirimu. Ah sial betul waktu itu aku ketahuan sedang memperhatikanmu, kau tersenyum kearah ku sedikit tersipu. Segera aku balas senyummu lalu kupalingkang muka ku kearah lain seperti salah tingkah aku saat itu. Dua jam pelajaran Bahasa Indonesia memberikanku waktu untuk berimajinasi dengan majas-majas yang sedang kelas kami pelajari. Sesekali bunyi kapur papan tulis yang berdecit dan ketukan sepatu ibu rodiah mengembalikan ingatanku akan dunia nyata.
Seketika kau masuk ke kelas ku dan meminta untuk kami semua menyisihkan uang untuk bantuan korban bencana. Aku ingat 2 deret tempat duduk lagi kau akan menuju ke tempat duduku. Aku bersiap-siap untuk itu. Kau datang sambil menyodorkan peti untuk aku isi dengan uang, aku taruh uang itu dan saat itu kau berkata ‘Terima Kasih’, ah lembutnya suara itu. Seandainya kuping ini bisa menjadi perekam audio dan mata ini bisa mejadi kamera untuk mengabadikan momen ini. Suara lembut mu, cantik mu, ah semuanya tentang kamu aku suka.
Minggu adalah hal yang paling aku tak sukai, tidak seperti siswa lainnya yang berharap minggu segera datang dan berjalan tak singkat, aku malah sebaliknya. Karena di hari minggulah aku tidak dapat menjumpai alis matamu yang tebal, bibir lembutmu yang berwarna pink. Jam tangan mu yang tak berhenti berdetak seperti denyut cintaku kepadamu. aku ingin segera melihatmu dibarisan regu upacara bendera seperti senin-senin biasanya, kau mengenakan topi kebanggaan sekolah. Yang sebenarnya kalau saja sekolah ini tanpa kamu bisa saja aku membencinya. Namun kau hadir meluluhkan semua prasangka buruk ini tentang sekolah yang biasanya terlihat kaku, lusuh, buruk, dan penuh dengan tekanan.
2 minggu lagi adalah kesempatan kita (aku) untuk bersama sebelum jurang pendidikan memisahkan kita (aku).

0 komentar:

Posting Komentar