Waktu
itu sabtu, aku duduk di depan aula yang biasa orang awam sebut gedung
pertemuan, aku memilih tempat itu untuk menunggumu bukan tanpa alasan, selain
harapan semoga gedung pertemuan itu berfungsi seperti namanya yaitu
mempertemukan aku dengan mu, ya memang itu adalah satu-satunya tempat dimana
aku biasa melihatmu pulang sekolah.
Aku
pemalu, aku duduk disitu sendiri melihat sepasang capung sedang terbang
berduaan dengan sang kekasih. Aku iri. Jelas nampak dari wajahku. Tak lama
kemudian kau datang, aku kaget setengah gugup. Aku memandangmu dengan mimik
ingin menyapa, aku pasang senyum 3 jari untuk menyambutmu sang putri yang
selalu hadir di setiap mimpi indahku, menjadi obat disetiap resah.
Sore
itu aku bahagia, berharap peristiwa tadi
bisa menjadi kenangan untuk melenyapkan kisah malam mingguku yang selalu
kelabu. Aku ingat rabu kemarin sehabis olahraga, saat itu kau sedang duduk
bertiga di pojokan kantin. Rena, adhila, dan kamu (adinda) dengan pita merahmu yang
tercatut dihijab sebelah kirimu. Ah sial betul waktu itu aku ketahuan sedang
memperhatikanmu, kau tersenyum kearah ku sedikit tersipu. Segera aku balas
senyummu lalu kupalingkang muka ku kearah lain seperti salah tingkah aku saat
itu. Dua jam pelajaran Bahasa Indonesia memberikanku waktu untuk berimajinasi
dengan majas-majas yang sedang kelas kami pelajari. Sesekali bunyi kapur papan
tulis yang berdecit dan ketukan sepatu ibu rodiah mengembalikan ingatanku akan
dunia nyata.
Seketika
kau masuk ke kelas ku dan meminta untuk kami semua menyisihkan uang untuk
bantuan korban bencana. Aku ingat 2 deret tempat duduk lagi kau akan menuju ke
tempat duduku. Aku bersiap-siap untuk itu. Kau datang sambil menyodorkan peti
untuk aku isi dengan uang, aku taruh uang itu dan saat itu kau berkata ‘Terima
Kasih’, ah lembutnya suara itu. Seandainya kuping ini bisa menjadi perekam
audio dan mata ini bisa mejadi kamera untuk mengabadikan momen ini. Suara lembut
mu, cantik mu, ah semuanya tentang kamu aku suka.
Minggu
adalah hal yang paling aku tak sukai, tidak seperti siswa lainnya yang berharap
minggu segera datang dan berjalan tak singkat, aku malah sebaliknya. Karena di
hari minggulah aku tidak dapat menjumpai alis matamu yang tebal, bibir lembutmu
yang berwarna pink. Jam tangan mu yang tak berhenti berdetak seperti denyut
cintaku kepadamu. aku ingin segera melihatmu dibarisan regu upacara bendera
seperti senin-senin biasanya, kau mengenakan topi kebanggaan sekolah. Yang sebenarnya
kalau saja sekolah ini tanpa kamu bisa saja aku membencinya. Namun kau hadir meluluhkan
semua prasangka buruk ini tentang sekolah yang biasanya terlihat kaku, lusuh,
buruk, dan penuh dengan tekanan.
2
minggu lagi adalah kesempatan kita (aku) untuk bersama sebelum jurang
pendidikan memisahkan kita (aku).


0 komentar:
Posting Komentar